Aspal di jalan Percetakan Negara masih kelihatan basah oleh sisa guyuran hujan sore tadi,malam belum begitu larut karna masih banyak kendaraan berseliweran dengan tujuannya masing – masing.suasana semakin “romantis” ketika sesekali angin malam menggerak – gerakkan spanduk bertuliskan “Sego Kucing Pak jho, Angkringan Spirit of Nangkring”.karena rasa penasaran saya yang begitu kuat , secara spontan aku injak pedal rem sepeda motorku untuk berhenti tepat di depan warung yang tak begitu terang itu.
“Monggo Mas,Mau duduk di kursi atau lesehan…?” sambut pak jho sambil menawarkan menu khas jawa tengahan
“lesehan Mawon Mas” sahutku
“Oh ya mas Jahe Susu Anget Satu ya..” ,lanjuku kembali sebelum Pak Jho menuju tempat pembuatan Wedang.
Di sekelilingku ada sekitar sepuluh orang yang terbagi menjadi tiga kelompok,satu dua kali terdengar canda tawa dari mereka dengan logat bahasa khas asal mereka,ada khas jogja,semarangan,Solo – klatenan, suruboyonan.Mereka larut dengan Susana Café pinggir jalan ini.
Nostalgia Masa Lalu
Nasi kucing / Angkringan / Hik memang seolah – olah tak bisa di pisahkan dari kisah anak kuliahan terutama bagi mereka yang nge Kost,di samping harganya yang relatif miring sehingga cocok untuk ukuran kantong,mereka juga sering memanfaatkan tempat angkringan untuk berdiskusi , sekedar ngobrol ngalor ngidol,bahkan untuk melakukuan PDKT bagi cewek , cowok yang baru kenalpun bisa disini.rasa seperti itulah yang tidak dapat di rasakan lagi setelah mereka meninggalkan kota asal kelahiran atau kota di mana mereka menimba ilmu dulu,sehingga untuk sekedar bernostalgia di masa lima atau sepuluh tahun yang lalu angkringanlah jawabannya.
Meletakkan sejenak formalitas
Jika di lihat dari tampang mereka yang jajan hampir bisa di pastikan mereka adalah orang – orang kantoran di siang hari.disadari atau tidak rutinitas mereka dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore adalah rutinitas yang monoton dan formal,sehingga untuk merefreskan pikiran, mereka mencari suasana yang sama sekali berbeda dengan suasana di siang hari yang sudah mereka lalui,meraka bisa dengan “seenaknya” jegang ngengkrang,ketawa ngakak,ngrokok kebal – kebul.berbeda 180 Derajat dengan suasana di siang hari,atau di kafe bersetting “modern”.
Sego kucing ,angkringan,hik akhirnya ikut menjadi “kaum Urban” untuk menemani para penikmatnya,semoga Angkringan bisa mempertahankan cirri khasnya,karna itulah nilai jualnya.
Penikmat Kucingan