Kidung wengi

Membaca kehidupan….Memaknai kehidupan ….,mengamalkan kehidupan..,

Dan….Malam…..

Malam tinggal menyisakan sepertiga takdirnya

di luar daun mangga menengadah mengembun

tak cukup basah memang

tapi cukup dingin kawan

baru saja kita lepas tawa itu

untuk hilang berkelok di gang perantauan

secawan anggur , secangkir kopi

lengkap dengan asap tembakau

menyerupai dupa pemujaan

kau ocehkan berbagai segi bidadari

hingga perlahan kita rebahkan badan tanpa hitungan

melayang,mendengkur tanpa selimut

semoga mimpi kita sama kawan

bertemu bidadari urip dan panguripan

Bangunlah kawan…..

Malam tinggal menyisakan Sepertiga takdirnya

Di luar ada tangan menengadah mengembun

Tak cukup basah memang

Tapi sangat tulus kawan

Baru saja ia lepas tangis itu

Untuk di bawa terbang malaikat lewat gang perantauan

Secawan dosa,secangkir pengakuan

Lengkap dengan sederet pertaubatan

Hingga perlahan ia rebahkan badan tanpa hitungan

Melayang,mendengkur tanpa selimut

semoga mimpi kita sama kawan

bertemu bidadari urip dan panguripan

Mardani,Ujung Suatu malam 2010

Ketetapan sang Waktu

aku coba  menghargai waktu

Makanya aku tidak cepat berlalu

Ku biarkan mulutku beku

Ku biarkan tubuh kaku

Tetapi tidak dengan hatiku

Ia tetap memanas sampai titik suhu tertentu

Tapi tak cukup mencairkan kebekuan

Tak mampu melenturkan kekakuan

Hingga…..saat

Musim tlah berlalu, Kawan

Sang Jibril sudah menyampaikan pesan

Yang dibawanya dari langit tertinggi takdir

Di taburinya dengan kembang mayang

Di sambutnya dengan Asmorodhono

Dan Kini…

Musim tlah berganti lagi…

Masih kubiarkan seperti dulu

Duduk menunggu Sang Jibril

Membawakan pesan untuk ku

Tentang kembang mayang

Tentang asmorodhono

Ankringan Spirit Of Nangkring

Aspal di jalan Percetakan Negara masih kelihatan basah oleh sisa guyuran hujan sore tadi,malam belum begitu larut karna masih banyak kendaraan berseliweran dengan tujuannya masing – masing.suasana semakin “romantis” ketika sesekali angin malam menggerak – gerakkan spanduk bertuliskan “Sego Kucing Pak jho, Angkringan Spirit of Nangkring”.karena rasa penasaran saya yang begitu kuat , secara spontan aku injak pedal rem sepeda motorku untuk berhenti tepat di depan warung yang tak begitu terang itu.

“Monggo Mas,Mau duduk di kursi atau lesehan…?” sambut pak jho sambil menawarkan menu khas jawa tengahan

“lesehan Mawon Mas” sahutku

“Oh ya mas Jahe Susu Anget Satu ya..” ,lanjuku kembali sebelum Pak Jho menuju tempat pembuatan Wedang.

Di sekelilingku ada sekitar sepuluh orang yang terbagi menjadi tiga kelompok,satu dua kali terdengar canda tawa dari mereka dengan logat bahasa khas asal mereka,ada khas jogja,semarangan,Solo – klatenan, suruboyonan.Mereka larut dengan Susana Café pinggir jalan ini.

Nostalgia Masa Lalu

Nasi kucing / Angkringan / Hik memang seolah – olah tak bisa di pisahkan dari kisah anak kuliahan terutama bagi mereka yang nge Kost,di samping harganya yang relatif miring sehingga cocok untuk ukuran kantong,mereka juga sering memanfaatkan tempat angkringan untuk berdiskusi , sekedar ngobrol ngalor ngidol,bahkan untuk melakukuan PDKT bagi cewek , cowok yang baru kenalpun bisa disini.rasa seperti itulah yang tidak dapat di rasakan lagi setelah mereka meninggalkan kota asal kelahiran atau kota di mana mereka menimba ilmu dulu,sehingga untuk sekedar bernostalgia di masa lima atau sepuluh tahun yang lalu angkringanlah jawabannya.

Meletakkan sejenak formalitas

Jika di lihat dari tampang mereka yang jajan hampir bisa di pastikan mereka adalah orang – orang kantoran di siang hari.disadari atau tidak rutinitas mereka dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore adalah rutinitas yang monoton dan formal,sehingga untuk merefreskan pikiran, mereka mencari suasana yang sama sekali berbeda dengan suasana di siang hari yang sudah mereka lalui,meraka bisa dengan “seenaknya” jegang ngengkrang,ketawa ngakak,ngrokok kebal – kebul.berbeda 180 Derajat dengan suasana di siang hari,atau di kafe bersetting “modern”.

Sego kucing ,angkringan,hik akhirnya ikut menjadi “kaum Urban” untuk menemani para penikmatnya,semoga Angkringan bisa mempertahankan cirri khasnya,karna itulah nilai jualnya.

Penikmat Kucingan

Negri Maskumambang

Maskumambang adalah Jenis tembang atau Lagu yang mempunyai arti filosofi “Jabang Bayi / janin yang masih berada di dalam kandungan ibu nya,sehingga belum ketahuan jenis kelaminnya, belum ketahuan kapan si jabang bayi itu akan lahir.Kalau kita mau perdalam lagi Maskumambang terdiri dari dua suku kata Mas (Emas) yang berarti Barang mulai yang sangat mahal harganya dan tidak semua orang bisa memilikinya,hanya orang – orang “pilihan” yang bisa mendapatkannya.Sementara Kumambang adalah Terapung,jadi kalau disimpulkan mas kumambang adalah Mas yang masih yang masih terapung.Emas yang masih belum berbentuk,perlu kesabaran,dad perawatan untuk mendapatkannya.

Negri yang lagi “Nyidam”

Pada proses ibu yang hamil hampir bisa di pastikan mengalami proses “nyidam” atau lekasan kalau orang semarangan bilang,jadi permintaannya aneh – aneh ,terkadang malam hari jam 12 minta mangga muda,setelah dapet mangga bukannya dimakan malah cuman di ciumin semaleman,setelah itu pagi buta minta sate kambing muda dengan syarat yang jual harus pakek jambang yang lebat, dan itulah yang terjadi di negeriku sekarang,orang bilang teriak minta demokrasi di kasih demokrasi bukannya untuk kesejahteraan e..malah buat rayahan,sekarang rame – reme teriak perubahan di kasih tempat bukannya untuk melakukan perubahan melainkan untuk mempertahankan kekuasaan,itulah negri nyidam.mintanya aneh –aneh tapi tidak pernah dilaksanakan,atau kalaupun di laksanakan cuman di incipi sak ndulit habis itu di campakkan begitu saja.

Jangan Paksa untuk lahir “prematur”

Akhir – akhir ini di negri pecinta demokrasi ini orang – orang lantang menyuarakan “kelahiran”,entah dengan dasar apa mereka kepengin banget negri ini segera “melahirkan” sang jabang bayi yang bernama perubahan,ada yang sudah membawa obat perangsang kelahiran,mempersiapkan bidan,mencarikan nama yang cocok untuk si jabang bayi,pokoknya suasananya sudah benar – benar krodit. Tetapi ada satu hal yang mereka lupa yaitu sudah berumur berapa bulan calon si jabang bayi ini?.saya khawatir setelah di paksa – paksa ibu pertiwi ini akhirnya meminum obat perangsang kelahiran juga,dan akhirnya melahirkan,tetapi apakah kita sudah siap merawat bayi yang bernama “perubahan” yang dalam keadaan premature..?bukankah merawat bayi premature lebih susah,dan akhirnya tidak akan melahirkan “emas” perubahan tetapi seonngok “batu “ penyesalan. Hmm….Semoga iya,semoga tidak

Nostalgia Cinta

Bukan disini

Di antara tembok yang mengajungkan jarinya ke angkasa

Dan memaknai cinta dengan dokmanya

Bukna disini

Ketika angin,awan,petir dan ingus hidung mulai tertata rapi

Bukan saat ini

Ketika sepatu hitam,kemeja putih,dengan pena bertengger di saku kiri

Tapi disini

Ketika angin kebingungan dengan arahnya

Ketika mulut bertanya apa arti buku yang di genggamnya

Tapi disini

Ketika Jeans Bolong,kaos Oblong,Kantong Bolong jadi temannya

Tetapi …tetap disini

Rasa,impian,kenyataan

Tetap tersimpan rapi

Mardani091109

Parodi Testimoni KPK Vs POLRI

Saya sendiri bingung jika ditanya kapan persisnya peristiwa itu terjadi, tetapi sebagai bahan testimoni begini ceritanya :

Suatu hari di Bulan “Juli –anto” ada orang yang bikin Ang –Goro – Goro,bermula dari proyek pengadaan radio komunikasi di salah satu department ke –HUTAN- nan,karena merasa ada masalah maka tukang bikin Ang-Goro2 ( gara - gara ) ini bersembunyi di rumah si raja hutan SINGA pura, disinilah aksi mulai di laksanakan dengan mengutus orang untuk Ang-Godho (menggoda) para penegak hokum supaya membantu dirinya dalam menghadapi kasus ini. Mala petaka pun terjadi karna tidak kuat menahan Ang-Godho an yang begitu menggiurkan akhirnya “scandal Jepit” pun terjadi, dan untuk men Selamatkan , posisi masing – masing di tempuhlah jalan Men Candra kan pihak yang dicurigai bersalah ke dalam sel.

Reaksi keras terjadi di mana-mana orang namanya juga di negeri yang baru belajar Demo Krasi,dari yang kecil – kecialan sampai yang meminta BH –d ( kalo beber2 di copot,melanggar UU Pornografi nggak ya..,xi..xiii) di copot dan Panji – panji penegak hokum diganti.

To Be Continue……

Cicak cicak di dinding diam merayap

Hap lalu di tangkap

Buaya jangan sampai ketipu kancil

Mardani 081109

facebook dan Suara Rakyat

Disadari atau tidak,disuakai tau tidak budaya berinternet kita akhir – akhir ini memang selalu meningkat,hal itu kian menjadi ketika hampir semua produsen computer menawarkan teknologi yang terkini dengan harga yang relatif makin terjangkau oleh semua kalangan,dan SDM bangsa kita yang semakin melek teknologi.disamping itu situs jejaring sosial seperti facebook,twiter,Blog dll seolah menjadi “lagu wajib” bagi masyarakat maya ini.

Lalu apa benang merah antara dunia maya terutama situs jejaring sosial dengan opini public atau suara rakyat nyata..? aku belum bisa menemukan jawaban itu, tapi kita coba tengok proses terpilihnya presiden amerika serikat Obama,juga menggunakan “jasa” situs jejaring sosial,lalu presiden kita sendiri juga sedikit banyak mencari dukungan lewat dunia maya ini.seolah – olah tak mau ketinggalan isu yang paling hangat akhir – akhir ini tentang perseteruan KPK Vs Polisi,kedua belah pihak atau yang mengklaim mendukung masing – masing kubu juga saling mencari dukungan lewat situs jejaring sosial.

Ini suatu budaya baru atau cara pandang hidup modern..?,perlu kajian yang lebih dalam mengenai hal itu,yang jelas sekarang yang muncul di permukaan adalah Dunia maya bisa menjadi “masyarakat “ kedua sehingga kita bisa meminta persetujuan atau pertimbangan tentang hal apapun di situ.dia tidak berwujud cuman nyata suaranya..

Maju terus “masyarakat” kedua, semoga kita bisa menggunakan “Pisau” yang bernama teknologi ini untuk mengupas buah – buah yang positif, bukan kita hunus lantas kita gunakan untuk membunuh orang yang belum tentu berdosa.

sudahlah………

Sudah..

Sudah ke pecahkan segelas anggur itu…

Ribuan hari yang lalu

Suara nya seru

Tapi tak sampai telingamu

Sudahlah…

Aku tak mau kau bersembunyi di balik bantal

Memekik.,merintih,lantas basah oleh kelopak matamu

Sudahlah……

Aku sudah merayakan kekalahanku

Dengan mengundang seribu kunang – kunang tiap malam

Ku suruh mereka berbaris, berkelok,membatik

Dan terkadang kusuruh satu dua kunang untuk meredupkan cahayanya

Hingga membentuk satu nama kendedes

Entahlah…..

Kunang – kunang itu sekarang tidak datang lagi

Entah sampai kapan….?

Hanya Nama mu masih oleh gelap malam yang mengabadikan

Jelas dan masih jelas Kendedes..

Namaku semakin jelas Kenarok

Sudahlah ….

Entahlah…..

KlpGading 021109

Untuk Noni…

Noni….

Biarkan aku membeku

kemudian membatu

termenung dalam takdirku

diam dalam tafakurku

Noni…

tak usah lagi kau sapa aku

kita sudah tidak berseragam abu - abu sepert dulu

Noni..

Burung cinta itu sudah lepas dari sangkar hati kita….

itupun atas kemauanmu bukan…?

kenapa sekarang kau cari  kicau merdunya..?

noni…

tak usah  kita coba bersiul untuk memanggil merdu kicaunya

pita suara ku sudah tak cukup merdu untuk itu…

mardani-02-11-09

Sumpah…”KITA” Pemuda

Saya teringat dengan “fatwa” Bung Karno :”Berikan Aku Sepuluh pemuda,maka akan aku rubah dunia”,lalu Pemuda yang manakah yang kita cari.?atau pemuda yang manakah yang kita perlukan,masihkah ada pemuda itu..?

Pemuda memang identik dengan pencarian jati diri,ego yang tinggi,cita – cita yang belum tercapai,asmara , dan hal – hal yang belum “ menentu” lainnya.dalam budaya gending jawa pemuda dilambangkan dengan “Asmoro Dhono” yang kurang lebih artinya pemuda berada dalam fase hidup pencarian asmara atau cinta dan kesenangan.Asmara dan cinta dalam gending asmorodhono bisa berarti universal,tidak sebatas pada “kotak “ cinta wanita dan pria,tidak di batasi usia,yang penting orang itu masih berada pada garis pencarian ya dia masih asmorodhono,ya dia masih pemuda.pun sebaliknya kita sering melihat orang yang secara fisik masih kelihatan muda cuman sudah melepaskan atribut kepemudaannya,maka dia mungkin bisa kita bilang sedang naik kelas menjadi “megatruh” dan tingal menunggu untuk menjadi “pucung”.

Sebagai pemuda harus mencari guru yang maha guru,guru yang benar – benar ikhlas, dan guru yang tanpa pamrih.dan guru yang pilih tanding,Jangan sampai kita menemukan guru yang bernama Durno,karena kalau kita menemukannya dan hanya mengatakan “Siap Guru” maka kita akan bernasib seperti Bima yang akan mencari “sumber mata angin” yang memang tidak ada ujung pangkalnya.dan tanpa tahu apa sebenarnya yang diinginkan guru durno terhadap diri Bima,atau kita ingin menjadi menjadi pemuda yang bernama “saridin” ketika dia ingin menjadi santrinya kanjeng sunan kudus,syaratnya hanya satu yaitu melafalkan dua kalimat syahadat,tetapi dia tidak mengucapkan secara lahir,malah memilih memanjat pohon kelapa dan langsung melompat ketanah,dan anehnya saridin tidak luka sedikitpun,ketika ditanya kenapa kamu melakukan hal “kurang waras” seperti itu,oleh temannya dia hanya menjawab :”keyakinan tidak cukup diucapkan hanya di mulut”.sama seperti kata pemuda tidak cukup gembar – gembor ngalor – ngidul saya ini pemuda,tapi tidak pernah menjadi “pemuda”

Ya Robb…,Aku tidak mau seperti bima tapi aku belum bisa seperti saridin…

Gending : lagu,asmorodhono:gending yang menceritakan tentang kesenangan,megatruh:gending jawa tentang kematian,Pucung:gending yang menceritakan kehidupan kematian,pilih tanding :Sakti

Kebonsirih96,27-10-09